Monday, August 27, 2018

Bisnis Sampah Yang Mengantarkan Amilia Agustin Mendapat Julukan Ratu Sampah Dari Bandung

Kepeduliannya terhadap lingkungan sudah mulai terbentuk sejak usia sangat belia. Itulah yang kemudian mendorong Ami beserta teman-temannya bergerak membantu menyelesaikan masalah sampah dan isu lingkungan lain di kota kelahirannya.

Jika Anda bukan orang sembarangan, maka jangan buang sampah sembarangan!" Seperti itulah kalimat yang selalu mengingatkan kita bahwa tanggung jawab mengenai sampah bukan hanya milik tukang sampah ataupun pemerintah. Ini merupakan tanggung jawab kita semua.

Amilia Agustin namanya, merupakan salah seorang aktivis remaja yang bergerak di bidang lingkungan. Saat itu tahun 2008, Amilia masih menjalani masa-masa indahnya sebagai siswi SMP di Kota Bandung, hingga kemudian perempuan yang kerap disapa Ami ini merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu.

Pasalnya, saat itu Ami melihat sebuah tulisan, "Mulailah memilah sampah dari diri masing-masing," di sebuah plang di tempat pembuangan sampah (TPS) Tegalega Bandung, dekat sekolahnya di SMP Negeri 11 Bandung.

Peristiwa itulah yang melatarbelakangi aktivitas sosialnya. Ditambah, keresahannya akan sampah-sampah yang berserakan di sekitar lingkungan sekolah, Ami berinisiatif untuk bergerak dari lingkungan sekolahnya sendiri.
Perempuan kelahiran Bandung, 20 April 1996 ini, kemudian mengajak teman-temannya yang pada saat itu memiliki keresahan yang sama. Setidaknya, sembilan orang yang saat itu tergerak untuk membantu Ami. Mereka pun sepakat untuk bergabung dengan gerakan yang dibuat oleh Ami.
Setiap sepulang sekolah, di saat para pelajar lain mungkin sedang sibuk bermain atau asyik terlelap menikmati tidur siangnya, Ami dan teman-temannya malah mengumpulkan sampah-sampah yang berceceran di sekitaran sekolah.

Sampah itu kemudian dipisah-kan berdasarkan klasifikasinya masing-masing, yakni sampah organik dan non-organik. Sampah plastik termasuk ke dalam kategori sampah non-organik, walau butuh waktu lama untuk terurai, bukan berarti tidak bisa dimanfaatkan kembali. Contoh yang dapat digu-nakan kembali adalah kemasan mi instan serta minuman sachet. Begitu pula sampah rumah tangga yang dikumpulkan kemudian diolah menjadi pupuk kompos.

Awalnya sempat menjadi cemooh-an beberapa teman bahkan guru, namun aktivitas itu terus dilakukan-nya secara konsisten. Mulai dari lingkungan sekolah, kemudian se-makin besar daerah cakupannya hingga sampai pada tempat pem-buangan sampah Tegalega, tempat
Ami melihat tulisan yang telah menggerakkan hatinya itu.

Walau dirasa berat, Ami dan teman-teman sangat beruntung. Apa pasal? Guru biologi mereka, Ibu Nia, sangat mendukung kegiat-an ini dengan dasar keilmuan yang dimiliki dalam hal pengolahan sampah. Bu Nia pula yang membawa Ami dan teman-temannya ke Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi untuk belajar pengelolaan sampah menjadi pupuk kompos.

Dari sanalah, Ami dan teman-teman, beserta Ibu Nia menamai komunitas yang berbasis sekolah tersebut dengan nama Go To Zero Waste School. Harapannya, setiap orang memiliki kesadaran akan kebersihan dan mampu membedakan antara sampah organik dan non-organik.

Dari sampah jadi berkah

Pada 2009, Amilia dan teman-temannya dibantu Bu Nia meng-ajukan proposal program Karya Ilmiah Remaja bertajuk Go To Zero Waste School kepada Pro¬gram Young Changemakers dari Ashoka Indonesia. Ternyata pro¬posal disetujui dan mereka raen-dapat biaya operasional senilai Rp2,5juta.
Proyek pengelolaan sampah ini terbagi dalam empat bidang, yaitu sampah organik, non-organik, te
trapak, dan kertas. Ami dan teman-teman kemudian mencoba mene-rapkan metode "From Trash To Trashion". Limbah plastik seperti bungkus kopi atau bungkus mi instan akan diolah menjadi sebuah tas bernilai ekonomis.

Limbah kain perca, mereka mengambil dari berbagai perusa-haan konveksi di Bandung, disulap menjadi tas layak jual. Sampah organik diolah menjadi pupuk dengan metode kompos. Sedangkan untuk mengatasi sam-pah tetrapak (seperti kemasan susu/teh kotak), Ami dan teman-teman bekerjasama dengan Yayasan Kontak Indonesia (YKI), Satu kilogram kemasan be-kas dapat ditukar lima buku catatan olahan dari sampah tetrapak.

Ami juga menggandeng Greeneration Indonesia dalam program Kebunku (Kertas Bekasku Hijaukan Bangsaku). Kertas bekas didaur ulang dan dijadikan agenda, notes, komik, kerajinan, juga recycle paper.

Setelah itu kegiatan komunitas ini terus meningkat. Dengan semakin banyaknya orang-orang yang terlibat, mereka membuat bank sampah yang bekerja sama dengan Bank Mitra Syariah. Setiap kilogram sampah yang terkumpul bisa ditukar dengan rupiah nanti-nya. Sampah kertas dihargai Rp700-1.000 per kg, plastik Rpl.000 per kg, sedangkan botol kaca Rp2.000 per kg.

Ami dan teman-temannya juga membina ibu-ibu di lingkungan sekitar sekolah untuk bisa meng-olah kerajinan dari sampah. Tujuan-nya agar mereka bisa membuat sen¬diri tas tersebut dan dapat menjual-nya. Ami juga mengangankan, ibu-ibu tersebut suatu saat bisa berpe-ran langsung sebagai pendidik untuk masyarakat di sekitarnya.

Pentingnya pendidikan di usia dini

Pada 2010 Ami terpilih sebagai Duta Sanitasi Jawa Barat dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI (KPUPR-RI) dengan membawakan tema Tangan-tangan Anak Bangsa Yang Menyelamatkan Alam Indonesia. Sayangnya, di Jakarta, ia tidak terpilih sebagai duta tingkat na-sional. Namun ia tidak kecewa.

Soal pemilihan duta itu, Ami berpikiran, "Bukan perihal menang atau kalah, karena ini adalah perlombaan. Yang saya pikirkan bagaimana dan sejauh mana saya telah berkontribusi untuk bumi. Sekaligus pengalam-an yang berharga dan senang bisa bertemu teman-teman seusia saya waktu itu yang juga peduli lingkungan."

Pada tahun yang sama, Ami juga menjadi pemenang Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards untuk kategori lingkungan. Bayangkan di usia yang begitu muda, 14 tahun, sementara peserta lain berusia 25-34 tahun. Selain piala, ia juga mendapat hadiah Rp40 juta.
Mendapat uang sebesar itu, Ami sempat bingung mau diapakan. Namun karena kepeduliannya pada lingkungan, ia menggunakannya untuk membeli berbagai peralatan tambahan untuk mengolah kerajinan dari sampah. Seperti mesin jahit, mesin sablon, dan sebagainya. Alat-alat tersebut ia sumbangkan kepada ibu-ibu yang sudah pernah dibimbingnya.

Ketertarikannya pada dunia pendidikan juga membawa Ami menjadi pengajar di waktu senggang. Dari sini tercetuslah wadah bernama Bandung Bercerita. Gerakan ini dilandasi pemikiran bahwa sebuah negara bisa maju jika sistem pendidikannya baik. Sementara di negara kita masih mengedepankan hasil, padahal proses justru lebih penting. 

Sengaja ia menyasar anak-anak usia SD untuk diedukasi soal pentingnya membaca buku atau seputar sampah. Anak-anak itu umumnya berasal dari pinggiran rel kereta api, panti asuhan, atau sekolah-sekolah dasar di desa yang infrastrukturnya belum memadai.

"Jika kalian bukan orang sembarangan, maka jangan buang sampah sembarangan!"

Dalam mengajar, Ami melakukan-nya melalui audio, visual, dan kines-tetis. Tujuannya agar anak lebih mu-dah mengerti. Karena menurut dia tugas pendidik bukan hanya meng-ajarkan apa yang ada di buku pelajar-an. Namun juga mendidik agar anak betah dan mengerti pelajarannya.

Dari Bandung menuju Bali

Segala aktivitasnya di bidang sosial, membuat Ami mendapat penawaran beasiswa untuk kuliah dari berbagai negara seperti Singa-pura, Australia, Jepang. Namun ia melanjutkan studinya ke Universitas Udayana di Bali jurusan Ekonomi Pembangunan.

Pada awalnya Ami hanya berniat untuk belajar dan menyelesaikan kuliahnya saja tanpa mengikuti kegiatan apa pun di luar perkuliahan-nya. Namun rupanya ia terpanggil untuk membuat perubahan di mana pun berada. Di Bali, ia membuat ko-munitas Udayana Green Community, yaitu komunitas yang bergerak dipermasalahan lingkungan.

"Fokusnya sih berkegiatan di pengelolaan sampah, tapi sekarang lebih kepada sosialisasi pengelolaan sampah ke tingkat dasar, jadi kadang ke sekolah-sekolah atau masyarakat setempat," tutur Ami.

Dengan mengikuti lembaga kegiatan mahasiswa pula, Ami merasa memiliki massa untuk membuat suatu pergerakan. Sebab menurutnya, permasalahan sampah amatlah luas jadi dapat dilaksanakan di mana saja dan oleh siapa saja.

Kini bukan hanya bergerak di ruang lingkup lingkungan saja, Ami dan teman-teman beserta sekitar 30 relawan juga fokus di persoalan hak anak, khususnya masalah pendidikan.

Ami mengaku selama menjalan-kan kegiatan di Bali, hampir tidak ada hambatan sama sekali. Bahkan, masyarakat di Bali cenderung merespons baik dan malah ikut membantu. Pula Ami menuturkan akan selalu peduli terhadap permasalahan lingkungan selama masih ada di bumi. Ia juga berharap semakin banyak masyarakat, ter-utama anak muda, yang peduli kepada lingkungan di sekitarnya.